Mukhlishoh Amalia (Sunchon National University)

Brahma Andira Putra (Catholic University of Daegu)
24 July 2017
Josephine Grace S. (Jeonju University)
24 July 2017

Saya mahasiswi Sunchon National University. Ya dengan bangga saya sudah berani menyebutnya. Saya selalu tertarik mengenai kebudayaan, dapat berinteraksi sekaligus mengenal kebudayaan negara lain secara langsung merupakan keinginan terbesar saya. Ignorance is bliss? I beg to differ. Selalu mencari tahu membuat saya bersyukur pada akhirnya. Salah satunya adalah mencari tahu program-program beasiswa yang ditawarkan Yayasan Kebudayaan & Studi Indonesia-Korea atau yg lebih dikenal dengan IKCS. Dan ketika melihat program beasiswa yang ditawarkan untuk S1 di Sunchon National University di Korea Selatan tanpa pikir panjang saya langsung mendaftarkan diri untuk mengikutinya.

Saya menjalani pelatihan bahasa korea dasar di IKCS kurang lebih selama 3 bulan bersama seorang teman bernama Ari yang juga ikut dalam program beasiswa ini. Dibantu oleh tenaga kerja profesional serta guru-guru yang memiliki kredibilitas tinggi satu demi satu langkah kami lewati termasuk proses penyerahan dokumen, pembuatan visa hingga menunggu LoA dari kampus.

Semua itu tidak melulu berjalan dengan mulus. Hambatan serta kesulitan kami temui tapi lantas hal itu tidak membuat kami begitu saja menyerah. Dan pada akhirnya tepat pada tanggal 16 maret 2016 kami berangkat dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Bandara Internasional Incheon. Disana sudah ada seseorang dari pihak kampus yang menjemput kami, ia bernama Mr. Kim Hwansoo

Mr. Kim memberi tahu banyak hal kepada kami. Bahkan tidak segan ia mentraktir kami secawan dak galbi dan patbingsoo. Mr. Kim berkata bahwa 2 bulan yg lalu ia mengunjungi Indonesia dan Pak Chang (founder IKCS sekaligus bapak kami tercinta) menjamunya dengan sangat baik jadi sepertinya ia membalasnya melalui kami.

Ini sudah hari ke lima saya di Korea di kota Sunchon tepatnya. Kota yang orang-orangnya sangat ramah, bersih dan menyengkan. Semua akses serba mudah disini. Oh iya saya juga bertemu mahasiswa/i asing yang sangat baik. Mereka memiliki toleransi tinggi antar agama dan budaya. Bertukar cerita, pengalaman merupakan hal yang tak ternilai harganya.

I start to love Korea and everything inside. So deeply in love. Banyak orang yg bertanya kepada saya “memang kamu suka Kpop?” Such a weird question. Saya pikir tidak harus menjadi Kpopers untuk menuntut ilmu hingga ke negeri ginseng. tidak harus menjadi Kpopers untuk bisa takjub dengan pola pikir dan cara hidup orang-orang Korea, dan tidak harus menjadi Kpopers untuk bisa semudah ini jatuh cinta dengan Korea 🙂

Saat ini saya sedang menikmati perjalanan hidup yang tuhan berikan. Sampai tiba saatnya pulang agar bisa menorehkan senyum kebanggaan dari orangtua, keluarga dan orang-orang tersayang. Mungkin akan anda rintangan, halangan dan batu loncatan yang akan saya temui di depan. This is life, take a chance, face a risk and go ahead.

And of course I wouldn’t be here without IKCS and the great people. Terimakasih pak Chang telah mengajarkan saya kerja keras adalah kunci kesuksesan and discipline is the new form of affection. Terimakasih bu Messy, you scold and warn me like my mom, satu hal paling berharga yang bisa saya ambil dari ibu yaitu definisi sesungguhnya dari perempuan sukses adalah perempuan yang kuat dan dapat memajukan dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain, terimakasih Miss Iis orang paling sabar se Kramat Pulo Gundul, Kak Avi my new sister makasih buat bantuannya mengurus ini itu. Pak Bonel yang sudan membantu mengurus paspport dan visa, pak Terry, bu Asih, pak Toto, bu Lia dan bu Harifah makasih buat semua ilmu yang sudah diberikan.

 “Although you may be hurt and bleeding now, a better day will come. Hard work will never betray you”
-Kang Gary

Login / Register